RAMP-IPB kembali akan mengadakan Pelatihan Technopreneurship (Intensive-Student Technopreneurship Program 2013 atau i-STEP 2013). Program ini menawarkan peluang kepada 50 orang mahasiswa Indonesia untuk mengikuti pelatihan technopreneurship secara GRATIS selama dua minggu di Bogor, bahkan kami berikan pengganti biaya transportasi pulang-pergi, akomodasi (penginapan, makan, snack, dll.) selama training, serta seluruh materi training diberikan secara cuma-cuma. Pelatihan tersebut terbuka untuk mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki minat untuk pengembangan invensi dan inovasi dan/atau technopreneurship serta memiliki ide atau solusi teknologi untuk menyelesaikan permasalahan dalam bidang air, energi, kesehatan, pertanian, keanekaragaman hayati atau bidang-bidang lain yang relevan.
Inti training adalah bagaimana menumbuhkan ide inovasi teknologi dan membawanya sampai menjadi suatu bisnis atau usaha yang bermanfaat bagi masyarakat, yang kami istilahkan sebagai “from idea to impact”. Materi yang akan diberikan adalah penilaian idea dan peluang usaha, mentransfer ide menjadi teknologi yang ‘proven’, memasarkan dan menjual inovasi, membuat business plan dan business model, membangun usaha, dan membiayai usaha berbasis inovasi teknologi.
Syarat:
- Terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi minimal semester 4 (S-1) atau semester 2 (S-0/Diploma 3).
- Memiliki ide inovasi teknologi yang bermanfat bagi masyarakat.
- Mengisi formulir proposal dan dokumen-dokumen pendukungnya yang dapat diperoleh di rektorat anda (luar IPB), departemen (IPB) atau download panduan dan formulir proposal di http://www.ramp-indonesia.org atau di http://ramp.ipb.ac.id
- Mengirimkan proposal awal inovasi teknologi dalam format MS Word ke e-mail ono.suparno@gmail.com dan tembusan (cc) ke ramp.ipb@gmail.com paling lambat 11 Mei 2013.
- Setelah menerima tanggapan dari RAMP-IPB, mengirimkan proposal yang sudah diperbaiki ke e-mail ono.suparno@gmail.com dan cc ke ramp.ipb@gmail.com paling lambat 25 Mei 2013.
- Mengirimkan hardcopy proposal yang sudah diperbaiki sesuai dengan ketentuan pada formulir proposal (Lampiran 1) paling lambat 25 Mei 2013 ke:
Sekretariat RAMP-IPB
Jl. Raya Pajajaran No. 1
Kampus IPB Baranangsiang, Pintu 3,
Bogor 16127.
Proposal-proposal tersebut akan diseleksi oleh tim reviewer. Peserta yang terpilih akan berhak mengikuti pelatihan tersebut yang sepenuhnya dibiayai oleh RAMP-IPB.
- Pengumuman yang lolos seleksi: 6-7 Juni 2013.
- Pelaksanaan pelatihan: 24 Juni-6 Juli 2013.
Apalabila ada informasi yang belum jelas silahkan ditanyakan melalui
Unduh disini
- Panduan Pengisian Proposal
- Formulir Proposal
Read More
Memberantas hama identik dengan pestisida. Padahal, limbahnya mencemari lingkungan, bahkan bisa terakumulasi di tubuh manusia. Seorang anak muda, Tunggul Dian Santoso, mengubah kebiasaan yang kurang bersahabat dengan lingkungan itu. Ia menciptakan peralatan yang dinamakan Genitech. Sebuah teknologi pembasmi hama ramah lingkungan tanpa limbah pestisida berbasis suara.
Tahun 2009 silam, nasib petani di wilayah eks Karesidenan Surakarta seperti Klaten, Wonogiri, dan Sukoharjo di Jawa Tengah (Jateng) benar-benar hancur. Hama wereng memusokan ribuan hektare (ha). Petani kebingungan, karena pestisida yang mereka semprotkan ternyata tidak terlalu mampu memberantas hama. Justru, lingkungan yang tercemari pestisida, karena dosis yang digunakan petani cukup tinggi akibat merebaknya serangan.
Nasib memprihatinkan petani itulah yang membuat anak muda bernama Tunggul mulai terusik. Ia berkonsultasi dengan ayahnya yang juga seorang petani di Bengkulu, Suyud Santoso, 65. Tunggul banyak menarik informasi dari ayahnya mengenai bidang pertanian. “Kebetulan, waktu itu, ide awal mengenai pemanfaatkan gelombang suara itu muncul pada saat saya mengikuti kompetisi Recognition and Mentoring Program (RAMP) Institut Pertanian Bogor (IPB). Selain konsultasi dengan bapak soal hama tanaman, saya juga diberi berbagai macam buku referensi mengenai dasar gelombang suara yang dapat menghalau hama,”jelas Tunggul memulai cerita risetnya saat ditemui di Laweyan, Solo (16/12) lalu.
Dari rangkaian program RAMP IPB, di antaranya pembekalan periset oleh para ahli di IPB, maka dirinya mulai melakukan penelitian. Dan ternyata, proposal riset tersebut dilirik oleh RAMP Yayasan INOTEK Jakarta untuk dikembangkan lebih lanjut agar hasil karyanya berguna bagi masyarakat luas. Peralatan tersebut nantinya juga bakal diproduksi dalam skala usaha kecil dan menengah (UKM) sehingga peneliti dan timnya menjadi enterpreneur.
Setelah terpilih oleh Yayasan INOTEK, Tunggul mulai mengembangkan ide dengan menciptakan peralatan yang nantinya bisa berguna bagi masyarakat luas, khususnya petani. Dengan fasilitasi pendanaan yang disediakan oleh Yayasan INOTEK yang didukung oleh The Lemelson Foundation, Tunggul sangat serius merealisasikan idenya menjadi peralatan inovatif.
“Kemudian, saya membuat peralatan elektronik yang membuat menghasilkan suara ultrasonik untuk mengacaukan komunikasi hama di areal pertanian. Kisaran frekuensi suaranya antara 25-50 KHz, sebab komunikasi suara yang dihasilkan oleh wereng berkisar 35-48 Khz. Di sinilah hal yang paling mendasar dari alat Genitech, menciptakan suara yang menjangkau frekuensi suara komunikasi dari hama di sawah,”jelas alumnus jurusan Teknik Komputer Politeknik Pratama Mulia di Solo.
Komponen utama yang digunakan untuk menciptakan Genitech adalah oscilator. Hampir setiap toko elektronik menyediakannya. Namun, yang membedakan adalah, oleh Tunggul, oscilator tersebut kemudian diprogram melalui komputer. “Pemrograman melalui komputer inilah yang menjadi intinya. Kalau komponen oscilator yang dijual di pasaran hanya mampu menghasilkan satu jenis frekuensi. Namun oscilator yang kemudian saya program mampu menghasilkan enam jenis frekuensi suara,”jelas Tunggul membuka sedikit rahasia dapur risetnya.
Secara lengkap, peralatan itu terdiri dari seperangkat komponen elektronik yang menjadi jantung Genitech. Komponen yang tersusun rapi dimasukkan dalam kotak berbentuk semacam kubus. Pada keempat sisi bagian luar diberi speaker yang berfungsi mengirimkan suara ke segala penjuru. Yang menarik, pada bagian tutup kotak tersebut dipasangi sel surya yang berguna untuk menyerap tenaga matahari untuk memasok energi ke accu yang mengoperasikan Genitech.
Peralatan itu ditopang dengan menggunakan tiang, sehingga secara gampang dapat diletakkan pada areal persawahan. Secara sekilas, bentuk peralatannya begitu sederhana. Namun sesungguhnya ada kerumitan dalam menciptakan frekuensi suara sebagi pengusir hama. “Yang menjadi inti dari Genitech adalah menciptakan suara ultrasonik pada kisaran 25-50 KHz. Secara bersamaan, ada enam variasi frekuensi yang diprogram secara berbeda,”ungkapnya.
Enam variasi yang berbeda tersebut bukan tidak ada maksud. Tujuannya adalah agar hama pada lahan pertanian tidak mengalami resistensi. Barangkali kalau hanya satu frekuensi, pada awalnya hama tidak tahan, tetapi lama kelamaan akan hama bakal melakukan adaptasi yang kemudian memunculkan resistensi. Inilah yang kemudian dihindari, karena ada perbedaan yang frekuensi yang berbeda setiap waktu, maka hama akan kesulitan beradaptasi terhadap suara ultrasonik yang dipancarkan.
Pada percobaan yang dilakukan di areal persawahan di Wonosari, Klaten, Jateng, peralatan itu mampu melumpuhkan berbagai hama pertanian. Memang, kata Tunggul, pada awal risetnya yang dijadikan sasaran hanyalah hama wereng. “Tetapi ternyata Genitech mampu juga menjadi senjata ampuh untuk melumpuhkan organisme pengganggu tanaman lainnya seperti walang sangit, belalang, ngengat, kupu-kupu putih atau klaper, serta tikus,”jelasnya.
Hama tersebut tidak mati, melainkan hanya lumpuh. Tetapi yang paling penting adalah, peralatan ini mampu memutus perkembangbiakan organisme pengganggu tanaman. Hama tidak dapat berkembang sehingga padi yang berada pada areal persawahan tetap aman dari serangan hama.
Kelebihan peralatan yang mampu menghilangkan serangan hama tersebut di antaranya adalah tidak adanya limbah yang dihasilkan serta aman bagi manusia. “Meski menggunakan suara ultrasonik, tetapi aman bagi para petani. Yang jelas, Genitech sangat berbeda dengan pestisida yang biasa dipakai petani untuk memberantas hama. Sebab, peralatan ini tidak menghasilkan limbah sama sekali. Beda dengan pestisida yang jelas menghasilkan limbah dan memperburuk kualitas lingkungan,”katanya.
Di sisi lain, penggunaan peralatan ini lebih efisien, karena petani tidak perlu repot lagi menggendong tangki pembawa cairan pestisida untuk membasmi hama. Mereka cukup mengoperasikan dan melakukan pengecekan peralatan saja. Apalagi, satu peralatan mampu menjangkau radius satu hektare (ha) areal persawahan. Secara biaya, jauh lebih hemat jika dibandingkan dengan pembasmian hama secara konvensional.
Meski dalam uji coba yang dilakukan oleh Tunggul secara nyata mampu mengendalikan hama, tetapi saat ini inovator muda itu terus melakukan penyempurnaan dengan pendampingan dari Yayasan INOTEK. Proses itu harus dilakukan, supaya kalau nanti digunakan oleh petani sudah sempurna dan sesuai dengan harapan. “Saya sendiri masih belum memastikan berapa banderol harga untuk satu peralatan Genitech ini. Kemungkinan harganya berkisar antara Rp2 juta hingga Rp3 juta. Namun semuanya belum final, karena masih menunggu kajian tim yang menangani bisnisnya,”kata Tunggul.
Sementara Manajer Promosi dan Penjangkauan Masyarakat Yayasan INOTEK Andre Junaldi mengatakan karena Tunggul terpilih sebagai periset yang masuk program RAMP Indonesia Yayasan Inotek, maka pihaknya memfasilitasi penelitian dan penyempurnaan alat agar benar-benar siap jika dilepas ke pasaran. “Guna menghindari pembajakan atau peniruan peralatan tersebut, maka kami juga mendampingi inovator dalam mendaftarkan karyanya agar mendapatkan hak paten,”ujar Andre.
Tidak hanya berhenti di situ, kalau cuma peralatan inovatif, namun tidak tersebar ke masyarakat luas, tentu tidak ada gunanya. “Oleh karena itu, Yayasan INOTEK juga mendampingi, bagaimana nantinya ada semacam unit bisnis yang akan mengurus pemasaran alat agar dikenal masyarakat. Sehingga, masyarakat luas dapat menerima keuntungan atas penemuan periset, di sisi lain, inovator bakal menjadi entrepreneur wirausahawan dengan membentuk kelompok usaha. Namun, kami juga mengimbau agar peralatan yang nantinya dipasarkan kepada para petani tersebut harganya bisa terjangkau,”tambahnya.
Kesempurnaan peralatan hasil inovasi Tunggul, barangkali akan memunculkan sebuah revolusi dalam sektor pertanian. Sebab, dengan pengoperasian peralatan itu, maka hama di areal persawahan dapat dikendalikan dengan tepat. Yang tidak kalah penting adalah pertanian akan lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. (***)
Biodata
Nama: Tunggul Dian Santoso
Tempat/tgl lahi: Bengkulu, 8 Januari 1989
Jenis Kelamin: Laki-laki
Pendidikan : Diploma Tiga (D3) Teknik Komputer Politeknik Pratama Mulia Surakarta
Prestasi
1. i-Step RAMP IPB tahun 2009
2. Pre-Mentoring RAMP IPB 2010
3. Mentoring RAMP Indonesia/Yayasan INOTEK 2012
4. Anugerah Iptek Kemenristek 2012
Penulis
Liliek Dharmawan
INOTEK Fellow Batch 1
Read More
Dari luar, bangunan berpagar bata merah di kawasan Gang Gurame, Purwakarta, itu terlihat seperti rumah tinggal biasa. Tidak ada kesibukan yang menonjol semisal hilir mudik pekerja. Tapi siapa sangka, dari bangunan yang tampak asri itu, harapan tentang air layak minum bermula.
Di sinilah Ris Sukarma (63) memproduksi saringan keramik Tirta Cupumanik (TCM). Saringan keramik TCM adalah saringan air berbahan keramik yang menghasilkan air layak minum. “Air yang disaring menggunakan TCM bebas bakteri dan virus, sehingga bisa langsung diminum. Selain itu, ada sensasi seperti air kendi, jadi terasa lebih segar,” ungkapnya.
Ide awal pembuatan saringan keramik TCM dimulai pada 2007. Saat itu Ris membaca publikasi hasil penelitian saringan keramik di Kamboja yang diterbitkan oleh Water and Sanitation Program/WSP-EAP. Lulusan teknik lingkungan ITB ini kemudian melakukan studi yang lebih intens dan mendalam tentang saringan keramik.

Ris Sukarma sedang menjelaskan tentang saringan air dari bahan keramik
Baru pada 2008, Ris memproduksi saringan keramiknya sendiri. Produksi dilakukan di ruangan seadanya di samping bengkel mobil. Proses pembakaran juga masih menitip pada pengrajin keramik di daerah lain.
Perbaikan dilakukan dari waktu ke waktu, baik dari segi manajemen maupun operasional. Pada 2009, Ris bersama enam orang rekannya mendirikan Yayasan Tirta Indonesia Mandiri, sebuah badan yang menaungi kegiatan produksi dan distribusi saringan keramik TCM. Secara bertahap, Ris membangun pusat pembuatan saringan keramik terpadu. Pada 2011, proses pembakaran saringan keramik TCM sudah dilakukan dengan menggunakan tungku milik sendiri dengan desain khusus.
Pembuatan Saringan Keramik TCM
Saringan air berbahan keramik sendiri sudah diakui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai media untuk mengolah air secara sederhana. Di banyak negara berkembang, saringan berbahan keramik sudah banyak digunakan. Selain harga yang terjangkau, air yang dihasilkan juga terasa segar.
TCM dibuat dengan mengadopsi rancangan keramik dari Resource Development International – Cambodia (RDIC). Saringan keramik dibuat dengan campuran lempung dan bahan pengisi. Lempung memiliki sifat liat dan mudah dibentuk. Melalui proses pembakaran, susunan kimia lempung berubah menjadi kuat, keras, sedikit berpori, dan tidak larut dalam air.
Adapun bahan pengisi, dapat berupa sekam padi atau serbuk gergaji. Ketika dibakar pada suhu tinggi, bahan pengisi akan terbakar dan menyisakan alur-alur halus pada lempung. Alur-alur ini berfungsi untuk mempercepat aliran air.

Saringan air TCM
Hal yang perlu diperhatikan, jangan sampai kecepatan aliran air melampaui batas toleransi yang diijinkan. Jika hal itu terjadi, kemungkinan bakteri akan tetap lolos. Karenanya, sangat penting membuat kombinasi yang pas antara lempung dan bahan pengisi, sehingga proses penyaringan dilakukan dengan baik dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Pada pembuatan saringan keramik TCM, campuran lempung dan bahan pengisi dibentuk menyerupai pot. Setelah itu berturut-turut melawati proses pengeringan, pembakaran pada suhu di atas 900o C, dan perendaman dalam air dingin. Keramik juga dilapisi dengan larutan perak nitrat berkonsentrasi rendah untuk mencegah tumbuhnya enzim yang menjadi sumber makanan bakteri, sehingga air terbebas dari bakteri dan virus penyebab penyakit. Total dibutuhkan sekitar tiga pekan untuk membuat saringan keramik TCM siap pakai.
Keunggulan Saringan Keramik TCM

Yeti, salah satu pengguna saringan keramik TCM
Saringan keramik TCM merupakan jawaban dari kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan air layak minum. Bagaimana kriteria air yang akan disaring? Sebaiknya menggunakan air yang bersumber dari sumur, PAM, atau kolam yang tidak tercemar logam berat. Tidak disarankan menggunakan saringan keramik TCM untuk menyaring air yang tercemar racun, logam berat, dan bersifat payau.
Jika kriteria air sudah dipenuhi, maka air hasil saringan keramik TCM bisa langsung diminum. Berdasarkan hasil laboratorium, air hasil saringan dinyatakan bebas bakteri dan virus. Air juga akan terasa lebih segar karena penggunaan saringan keramik TCM mampu menghadirkan sensasi air kendi.
Salah seorang pemakai saringan keramik TCM di daerah Cimahi, Jawa Barat, mengakui hal tersebut. “Air hasil saringan bisa langsung diminum dan terasa lebih segar,” ujar Yeti (49). Untuk sumber air, Yeti menggunakan air yang berasal dari sumur.
Saringan keramik TCM juga hemat energi. Karena dalam pengoperasiannya tidak membutuhkan tenaga listrik dan gas. Harganya juga relatif terjangkau untuk semua kalangan masyarakat, yaitu mulai dari Rp. 125.000/set dengan kapasitas 8 liter.

Contoh purwarupa (prototype) TCM komunal
Selain itu, saringan keramik dapat dikembangkan menjadi saringan keramik TCM komunal. Dengan memanfaatkan pot saringan yang tidak lolos tes aliran, unit ini digunakan untuk memproduksi air bersih (bukan air layak minum). Air hasil saringan bisa digunakan untuk mencuci atau kepentingan lainnya. Sangat cocok digunakan di daerah yang kesulitan air bersih.
Sejauh ini, saringan keramik TCM sudah menyebar ke beberapa kota di Indonesia, seperti Bogor, Purwakarta, Bandung, Jakarta, Padang, Alor, dan Bali. Pemesannya pun beragam, mulai dari individu, kelompok masyarakat, dan lembaga.
Kerja Sama dengan INOTEK

Ris Sukarma bersama tim dari Yayasan INOTEK
Usaha mengembangkan saringan keramik TCM tidak tergolong mudah. Di sisi pemakai, edukasi kepada masyarakat tentang keunggulan saringan keramik TCM masih harus dilakukan. Di sisi pengembang, harus siap modal dan melakukan inovasi.
“Saat itu modal sudah mulai menipis, mulai was-was untuk melanjutkan usaha,” ungkap Ris. Tapi ia merasa lega ketika terjalin kerja sama antara pihaknya dengan Recognition and Mentoring Program (RAMP) Indonesia. RAMP sendiri dijalankan oleh Yayasan INOTEK dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan dukungan dari The Lemelson Foundation.
Dengan tujuan untuk memfasilitasi pengembangan invensi dan inovasi, RAMP menyediakan beberapa dukungan. Di antaranya adalah networking, capacity building, dan funding. “Selain mendapat dukungan dana, saya juga dikenalkan dengan rekanan INOTEK yang lain. Itu sangat membantu untuk perluasan jaringan,” kata Ris.
Ris juga menjelaskan bahwa ia bersedia menjalin kerja sama dengan pihak manapun. “Bisa kerja sama untuk membuat produk, bisa juga untuk sharing knowledge, atau yang lainnya,” pungkasnya.
Dedi Setiawan
Bandung, Desember 2012
INOTEK Fellow Batch 1.
Read More